Saat
menghidangkan makanan bagi keluarga saya terkadang saya merasakan kecemasan dan
kejengkelan. Cemas bila makanan yang saya sajikan tidak habis dimakan oleh suami
dan anak- anak. Jengkelnya juga karena itu, kalau ternyata kecemasan kita saat
menyajikan makanan tersebut terbukti; makanannya tidak dimakan. Sebagai emak-
emak, mungkin anda pernah merasakan apa yang saya rasakan saat menyajikan
makanan untuk anggota keluarga. Terutama kalau anda adalah emak- emak dengan
anak balita yang sukanya pilih- pilih makanan atau maunya makan yang itu- itu
aja. Saya adalah tipe emak- emak yang suka merayu (baca: memaksa) kalo anak-anak
saya gak mau makan sayur. Tapi rayuan demi
rayuan itu pada akhirnya lebih sering berakhir dengan kekecewaan. Si anak tetap
pada pendiriannya untuk tidak mau makan sayur.
Tapi
suatu hari ada yang menarik dari bayi kecil saya yang perempuan saat saya
sedang makan sayur rebus yang berisi wortel dan labu jepang, dengan potongan bentuk
dadu- dadu. Si kecil langsung menarik piring makan saya dan kemudia melarang
saya menyentuh sayuran- sayuran tersebut dan dengan sigap memasukkan satu per
satu sayur tadi ke dalam mulutnya sampai habis. (Yey!! Hati saya bersorak
berarti kalau mau kasih makan sayuran ke si kecil harus diusahakan potongnya
bentuk dadu. Dan ini selalu berhasil). Tapi hati tetap bergumam, itu kan wortel
juga nak yang kemarin- kemarin mamak kasih?
Lain
waktu saat saya menyajikan telur dadar pada anak saya yang laki- laki, hasilnya
juga selalu berupa penolakan yang sangat ekspresif. Dia selalu bersuara, “Bleh!
Tak sedap!” (lagi- lagi dengan gaya Upin dan Ipinnya itu). Tapi suatu hari
karena punya waktu luang lebih maka saya ingin menyajikan telur dadar tersebut
dengan dipotong- potong hingga menyerupai bentuk mie di atas nasi goreng. Lalu saat
saya sedang menyiapkan memotong dadar- dadar yang sudah saya gulung, tiba- tiba
dari belakang saya terdengar suara, “Hmmm, enak ya!”. Saya melihat si abang
sedang memandang telur dadar mie tersebut dengan selera sekali. Saya langsung
berikan saja telur dadar tersebut dengan nasi gorengnya sekalian. Al hasil,
nasi goreng dan telur dadarnya habis sampai harus berebut dengan sang adik. Dan
saya berkata lagi dalam hati, itukan telur dadar juga seperti yang kemarin
mamak kasih?
Cerita
suami saya lain lagi.. suatu hari saya masak Ikan Tongkol tumis Aceh. Saat melihat
masakan tersebut suami saya terlihat tidak berselera. Dan benar saja, suami
saya benar- benar tidak meyentuh masakan saya. Hari ini saya membeli anak
tongkol berukuran kecil karena harganya murah dan masih segar sekali. Ikan
tongkol kecil- kecil tersebut saya rebus dan saya suir- suir kemudian saya
tumis Aceh lagi. Tapi kali ini saya masak sampai kering sehingga sekilas
terlihat seperti varian masakan Aceh yang lain, “Phep keumamah eungkot Sure”. Dan
seingat saya ini adalah salah satu makanan yang tidak pernah ditolak suami saya
dimanapun dia menjumpainya. Dan hasil akhirnya masakan tersebut tidak bertahan
lama. Dan suami sampai bilang kalau saya pelit karena tidak menambahkan ikan
tumis tadi saat dia minta ditambahkan nasinya karena saya melihat ikannya masih
lumayan di dalam piringnya. Saya bergumam lagi, ini kan ikan tongkol juga Ayah!
Kenapa kemarin- kemarin gak disentuh? Sampai- sampai saya malas memasaknya.
Tanpa saya sadari perbedaan tampilan dan tekstur pada makanan yang
saya sajikan ternyata menimbulkan persepsi yang berbeda terhadap rasa makanan
meskipun anak- anak dan suami saya belum merasakannya dengan lidah mereka. Apa
sih sebenarnya yang membuat tekstur dan tampilan makanan itu begitu penting bagi
seseorang? Ternyata penelitian mengenai masalah ini telah banyak dilakukan. Dan
terbukti ada beberapa faktor yang membuat seseorang memutuskan memilih untuk
makan atau tidak makan sesuatu. Dan faktor
penentunya itu bukan cuma pada rasa masakan lho. Ulasan berikut ini mungkin
akan sedikit meredakan pusing kepala para emak- emak dalam menyiapkan makanan
dan bereaksi saat makanannya tidak dimakan.
Kesukaan orang terhadap makanan
berdasarkan teksturnya adalah ditentukan oleh dua hal faktor biologis yaitu
terdapatnya enzim Amylase pada lidah. Orang yang memiliki enzym amylase yang
banyak cenderung mengganggap tekstur makanan seperti pudding, saus dan syrup
sebagai tekstur yang terlalu lembek dan berair. Faktor experience, semakin
banyak perulangan terhadap konsumsi makanan tertentu akan merubah persepsi dan
penerimaan seseorang terhadap makanan. anak laki- laki saya jadi suka nasi goreng ya karena seringnya dia makan nasi goreng setiap pagi. Kenapa setiap pagi? Ya Karena itu request makanan yang paling sering diminta oleh ayahnya anak- anak :) .
Ternyata tekstur merupakan salah
satu dari sekian banyak faktor yang dilihat orang dalam makanan yang mereka
anggap berkualitas sebelum memutuskan untuk makan atau tidak. Hal ini dikenal dengan nama food quality. Menurut West, Wood dan
Harger, Gaman dan Sherringtonserta Jones secara garis besar faktor-faktor yang
mempengaruhi food quality adalah sebagai berikut:
a. Warna
Warna dari bahan-bahan makanan
harus dikombinasikan sedemikian rupa supaya tidak terlihat pucat atau warnanya
tidak serasi. Kombinasi warna sangat membantu dalam selera makan seseorang.
b. Penampilan
Ungkapan ―looks good enough to
eat‖ bukanlah suatu ungkapan yang berlebihan. Makanan harus baik dilihat
saat berada di piring, di mana hal tersebut adalah suatu faktor yang penting.
Kesegaran dan kebersihan dari makanan yang disajikan adalah contoh penting yang
akan mempengaruhi penampilan makanan baik atau tidak untuk dinikmati.
c. Porsi
Dalam setiap
penyajian makanan sudah ditentukan porsi standarnya yang disebut standard
portion size. Standard portion size didefinisikan sebagai kuantitas item
yang harus disajikan setiap kali item tersebut dipesan. Manajemen dianjurkan
untuk membuat standard portion size secara jelas, misalnya berapa gram
daging yang harus disajikan dalam sebuah porsi makanan.
d. Bentuk
Bentuk makanan
memainkan peranan penting dalam daya tarik mata. Bentuk makanan yang menarik
bisa diperoleh lewat cara pemotongan bahan makanan yang bervariasi, misalnya
wortel yang dipotong dengan bentuk dice atau biasa disebut dengan
potongan dadu digabungkan dengan selada yang dipotong chiffonade yang
merupakan potongan yang tidak beraturan pada sayuran.
e. Temperatur
Seseorang
menyukai variasi temperatur yang didapatkan dari makanan satu dengan lainnya.
Temperatur juga bisa mempengaruhi rasa, misalnya rasa manis pada sebuah makanan
akan lebih terasa saat makanan tersebut masih hangat, sementara rasa asin pada
sup akan kurang terasa pada saat sup masih panas.
f. Tekstur
Ada banyak
tekstur makanan antara lain halus atau tidak, cair atau padat, keras atau
lembut, kering atau lembab. Tingkat tipis dan halus serta bentuk makanan dapat
dirasakan lewat tekanan dan gerakan dari reseptor di mulut.
g. Aroma
Aroma adalah
reaksi dari makanan yang akan mempengaruhi seseorang sebelum seseorang
menikmati makanan, seseorang dapat mencium makanan tersebut.
h. Tingkat
kematangan
Tingkat
kematangan makanan akan mempengaruhi tekstur dari makanan. Misalnya wortel yang
direbus cukup akan menjadi lunak daripada wortel yang direbus lebih cepat.
Untuk makanan tertentu seperti steak setiap orang memiliki selera
sendiri-sendiri tentang tingkat kematangan steak.
i. Rasa
Titik perasa dari lidah adalah
kemampuan mendeteksi dasar yaitu manis, asam, asin, pahit. Dalam makanan
tertentu empat rasa ini digabungkan sehingga menjadi satu rasa yang unik dan
menarik untuk dinikmati.
Jadi buat emak- emak gak usah baper
kalo suami atau anak- anak anda tidak mau makan masakan anda. Jelas itu bukan
berarti anda tidak pandai memasak. Ternyata ini lebih merupakan masalah
persepsi seseorang. Kalau hari ini masakan emak- emak semua pada gak dimakan ya
jangan risau berarti ada faktor- faktor di atas yang perlu dimodifikasi terus
sampai kita bisa paham makanan seperti apa sih maunya suami dan anak- anak
kita. Buat para ayah, suami dan para anak, pahamilah bahwa sebelum memutuskan
untuk tidak makan sesuatu lebih baik memcicipinya terlebih dahulu. Karena kalian
gak akan pernah tau rasa seperti apa yang terlewatkan Cuma karena mengandalkan
deteksi makanan cuma dari tampilannya saja.
Sumber :
Margaretha Fiani S. dan Edwin Japarianto, S.E., M.M., Analisa Pengaruh Food
Quality dan Brand Image terhadap Keputusan Pembelian Roti Kecik Toko Roti Ganep’s
di Kota Solo dalam JURNAL
MANAJEMEN PEMASARAN Vol. 1, No. 1, (2012) 1-6 diakses pada https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=3&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwimhar94IvTAhUKPo8KHZAQC1AQFggoMAI&url=http%3A%2F%2Fstudentjournal.petra.ac.id%2Findex.php%2Fmanajemen-pemasaran%2Farticle%2Fview%2F72%2F37&usg=AFQjCNGo5_wSsIiBHI9N6TJTa8z7L0oKjg&sig2=Weg3Y8ol8wFYu_IEv6lNEA&bvm=bv.151426398,d.c2I
5 april 2017
http://nakita.grid.id/Batita/Nugget-Mengacaukan-Selera-Makanan-Rumah
No comments:
Post a Comment